Sepotong Kisah yang (Tak) Harus dikenang

Dadaku bergetar saat Airin menyebut namanya

“Bapak kenal Mbak Inda” tanyanya dengan tatapan berbinar. Duniaku terasa berhenti berputar. Nama yang sudah hampir tujuh tahun mati – matian kulupakan tiba – tiba terdengar dari mulut comel Airin, mahasiswa magang di perusahaanku.

Aku tersenyum tawar. “Ya Inda teman seangkatan saya”

“ Ohya..wah..kebetulan sekali Pak,Mbak Inda itu dosen favorit di kampus, dia cantik, baik, keibuan” Puji Airin. Aku menelan ludah berusaha untuk tak terpancing ucapan Airin.

Tapi ucapan Airin siang itu membuka kembali luka lamaku, wajah polos berbalut busana muslim itu kembali terlintas, senyumannya yang tampak tak berdaya, juga pipinya yang memerah setiap kali aku menatapnya, Aaah..Inda, memori yang mati – matian kulupakan seiring dengan pelarianku ke perkebunan ini.  Hujan di sebuah sore tujuh tahun yang lalu itu yang menjadi akhir dari segalanya.

Dengan tertunduk malu, Inda berkata “ ini kali ketiga ada laki – laki yang akan menghitbah Inda, apa Rey akan diam saja, apa Inda harus menolak lagi..”

Aku terdiam. “ Inda sudah kehabisan alasan untuk menolak, kali ini laki – laki yang datang adalah teman Inda sesama aktivis”

Dan entahlah.. saat itu dengan lantang aku berkata

“lebih baik Inda nikah dengan dia, tak usah menunggu Rey lagi” Inda hanya diam, pandangan semakin tertunduk, aku tak tahu pasti apa yang Inda rasa sore itu. Yang ku tahu pasti, sudut hatiku menyesal melihatnya bersanding begitu anggun dengan laki – laki pilihanku di hari pernikahannya. Dan tujuh tahunpun bergulir dengan cepat, Inda seakan terlupakan seiring dengan hadirnya Nazwa istriku, juga Faiq dan Giska Anakku..tapi hari ini, memori itu kembali terbuka,dari celoteh gadis supel bernama Airin itu, tanpa kuminta, automatically dia bercerita banyak tentang Inda,ah..entahlah apa yang kurasa,,

Inda memang sangat berarti,,

Inda memang sangat kusayang,,

Inda memang poros putaran duniaku..

Tapi itu semua dulu!! Sekali lagi aku katakan itu semua dulu!! Sekali lagi aku yakinkan itu semua dulu!

Kini..Nazwa, Faiq dan Giska yang sangat berarti, yang paling kusayang dan poros putaran duniaku,kini..nanti dan selamanya..

Inda hanyalah sepotong masa lalu, tak perlu kukenang, tak perlu kusesali, hanya perlu dijadikan pelajaran dalam hidup ini..

Dan nun jauh disana, di seberang pulau sana, wajah ayu itu seketika memerah ketika Airin berkata dengan tatapan berbinar

“ Bu Inda, ada salam dari Pak Rey, beliau pembimbingku selama di lampung”

(Salam Hangatku untuk “Mr. R”  buat inspiring storynya!!”

sungguh Tegar Wanita Itu…

awal aku melihatnya,, aku sudah merasa ada yang tak biasa dari wanita itu. dia tidak pernah tertawa lepas meskipun aku telah membuat lelucon spektakuler di awal perkenalanku.
begitu beberapa hari kemudian, aku melihat wajahnya sedikit pucatnya. hingga akhirnya kudapati dia sedang menangis, memegang ponselnya, tangannya gemetar. kutatap layar ponselnya, tertulis nomor yang tak dikenal.
” Mbak..kenapa ga diangkat telponnya” tanyaku
” pasti orang itu lagi”
katanya getir, sepertinya dia menahan tangis. dia meletakkan ponselnya di bawah bantal.
” pasti dia lagi..” katanya pelan.
setetes airmata meluncur di pipinya.
” dulu mbak sangat mencintainya,, dia cinta pertama mbak, hingga akhirnya mbak mau diajak menikah olehnya meskipun usia mbak masih sangat muda” dia terdiam. sedikit terisak. aku menyentuh pundaknya.
” awalnya mbak begitu bahagia, tapi kemudian dia berubah, menjadi lelaki yang kasar, selalu keluar malam, bahkan sebagian orang berkata dia berjudi di luarsana”
aku terdiam..belum saatnya berpendapat.
” Mbak tetap menjaga kepercayaan yang dibangun, apalagi saat itu mbak sudah punya anak..namun, suatu malam dia berkata, bahwa dia terkena penyakit kelamin, tertular dari pelacur dan mau tak mau penyakit itupun sudah menjalar dalam tubuh mbak…” dia terisak
aku tertegun..sangat terkejut..kufikir cerita seperti ini hanya ada di sinetron – sinetron yang setiap malam ditonton ibuku.
” tapi mbak sudah memaafkannya, mbak ikhlas, hanya saja mbak lelah diganggu terus olehnya..padahal janjinya setelah bercerai dia berjanji tak menghubungi mbak lagi..”

Aku masih tertegun, bingung harus berkata apa, tapi kemudian Mbak itu tersenyum padaku. Dari balik wajah yang jarang senyum itu masih terlihat sedikit semangat dan harapan..

“ tak usah khawatir, mbak sudah terbiasa dengan kondisi ini..” dia menyeka sisa airmatanya.

“ yang penting mbak masih bisa bersama anak mbak, itu saja sudah cukup..” katanya pelan.

Hatiku bergetar…sungguh berat cobaan itu…tak berani aku membayangkan jika aku ada di posisinya..Tapi dia begitu tegar.. sebuah ketegaran yang begitu mahal harganya..begitu luar biasa..sungguh aku merasa begitu kerdil dihadapannya..kadang karena cerita cinta sederhanaku saja aku begitu cepat bersedih..begitu cepat menangis..melihat mbak itu aku begitu malu,, betapa kurangnya aku bersyukur padaNya, seringkali aku hanyalah makhluk pengeluh dan terkadang pengecut yang tak berani menghadapi cinta dan benci..hmm….

(seperti yang diceritakan seorang teman)

Karantina soekarno hatta 705

jam sudah menunjukkan pukul 00.15 WIB, saya masih menatap langit – langit kamar, deru kendaraan masih terdengar di jalan soekarno hatta..tak terasa ini malam terakhir saya di seokarno hatta705, ya benar – benar tak terasa akhirnya selesai juga karantina disini.

a

seminggu yang penuh pelajaran bagi saya dan ke-29 teman – teman saya. dari semua penjuru Jawa Barat kami berkumpul, bukan hanya sekedar untuk nundutan di kelas (Meminjam istilah Pak Agus Yusup : Nundutan se-Jawa Barat), tapi untuk dilatih menjadi insan – insan perkoperasian khususnya di pondok pesantren Jawa Barat (Sangat berat amanah ini sebenarnya). beragam karakter saya temukan di pelatihan kali ini dari mulai RO “si anak soleh”, Kang Mustakim “Syeh Puji”, Nursyifa “Sang Primadona”. Ampe menemukan istilah yang lucu “Mantri Pasar”.. humm.. seminggu penuh suka dan duka dengan orang – orang berlatar belakang pesantren.

bangun jam lima pagi, memulai hari dengan senam, ngantri sarapan, masuk kelas, ngantuk, seger saat coffe break dan lunch, masuk kelas lagi, coffe break lagi, masuk kelas lagi, ishoma,belajar lagi ampe jam 9/10 malam..huffh..hari yang melelahkan.tapi semua dijalani dengan keceriaan. memang berasa kembali ke zaman kuliah dulu, bercanda dan ngantuk di jam pelajaran

akhirnya pelatihan inipun berakhir, dengan tugas berat mengaplikasikan apa yang sudah didapat di tempat masing – masing. dan saling mengabari apa yang akan dan sudah terlaksana. mudah – mudahan silaturahmi ini bisa terus terjalin.

Papah’lah yang jadi juaranya..

seharusnya akhir minggu ini,,kuhabiskan bersama keluarga di pangandaran. pantai pangandaran yang terletak di pesisir selatan Jawa Barat, yang merupakan salah satu pesona wisata Jabar, hampir setiap tahun saya sekeluarga berwisata kesana, tapi tidak dengan tahun ini. gara – gara temen Mamah, salah memesan penginapan, hanya Mamah yang bisa pergi.  karena, hari senin, ini ada perpisahan di sekolah Papah, jadi Papah tidak bisa ikut, sedang saya, ada pelatihan hari senin ini, begitupun juga dengan adik saya yang masih ada ujian.

tinggallah, kami bertiga di rumah, memang ini bukan kali pertama. tapi kali ini saya begitu salut sama Papah. gara – gara  semaleman internetan, jadi paginya saya bangun kesiangan, alangkah terkejutnya melihat apa yang terjadi pagi ini. Papah dengan santai sedang menikmati kopi, buatannya sendiri, dan ketika saya ke dapur untuk menghangatkan nasi, semua hidangan sarapan sudah siap. aduuuh..jadi malu sendiri..!!!

Papah memang seperti itu, terbiasa melakukan segala hal pekerjaan rumah tangga. mungkin, karena dulu, sejak SMA sudah hidup jauh dari orangtua, bahkan merantau dari Bangka ke Bandung.

Melihatnya sosoknya yang begitu bersemangat sebagai seorang Guru, berangkat di pagi hari, saat matahari baru saja muncul. berjalan penuh semangat melewati pematang sawah, dan meskipun sudah sertifikasi PNS, masih saja belum terfikir untuk punya kendaraan pribadi. Saya selalu bangga padanya dan pada profesinya.

Papah, yang selalu menasehati saya, meskipun sebagai anak, kadang tak sependapat dengannya. seperti, ketika Papah menyuruh saya honor di distan Kab. bangka Tengah, sambil nunggu tes CPNS, tapi karena keegoisan saya, saya menolaknya. malah, saya minta kuliah S2, yang artinya, Papah masih harus bekerja untuk saya kuliah. tapi beliau tetap dengan setia mendukung saya S2, dan dengan penuh harap selalu menyemangati, saya untuk menyelesaikan S2 dan menjadi pendidik sepertinya, atau setidaknya mendapatkan pekerjaan yang layak, karena saya tahu Papah turut sedih melihat saya belum mendapatkan kerja setelah saya lulus.

dulu, saya pernah berbeda pendapat dengan Papah, ketika saya memutuskan ikut pendidikan dasar pecinta alam di kampus. memang, dari kecil Papah tak pernah memarahi saya maupun adik saya. kalo Papah marah, beliau hanya diam. begitupun, waktu  saya ikut pend. pecinta alam, beliau hanya diam, lalu saya yang keras kepala berteori tentang persiapan fisik dan mental untuk menjadi seorang pertanian yang siap ditempatkan di perkebunan sebagai alasan saya ikut pecinta alam. Papahpun mengalah, dalam diam beliau mengizinkan saya pergi, meski saya sangat tahu dan mengerti Papah berat melepas saya. dan yang paling saya inget,, sebelum saya pergi, Papahlah yang menyiapkan semua perbekalan saya, termasuk kering tempe. setetes airmata itupun mengalir sebelum saya pergi. dan alangkah terkejutnya saya, ketika melihat sosoknya di acara penutupan pendidikan pecinta alam di kampus. tak pernah menyangka Papah akan datang, menjemput saya pulang.bahkan saya tak mempercayai ucapan pelatih, yang menyemangati ketika saya terseok – seok turun Manglayang “Cepat tuan Rahmi, orangtuamu sudah menunggu di kampus”. ah tak mungkin, mereka datang, apalagi Papah…! tapi ternyata saya salah..

dan banyak lagi kenangan tersimpan di benak ini.. Papah, yang selalu ada di setiap detik kehidupan saya, selalu mendukung gerak dan langkah saya, dan juga  do’a – do’a yang selalu dipanjatkan di setiap sujudnya, untuk kebahagiaan saya. pokoknya “Papah’lah yang Jadi Juaranya..!!”

..Keputusan Terbaik…

tentang hasil wawancara dua minggu yang lalu dengan PT DuPont, ternyata saya belum dapat panggilan tes tahap selanjutnya.. tapi syukur Alhamdulillah, ada 3 orang teman saya yang lanjut.
mungkin bagi saya belum rezeki kali yaa, belum jodoh jadi researcher PT duPont. Insya Allah di depan ada yang terbaik. meskipun, beberapa hari yang lalu saya baru saja melewatkan kesempatan emas dari PT SMART Tbk, tawaran yang sebenarnya sudah saya tunggu – tunggu bahkan jauh sebelum lulus. “Research Officer PT SMART”
dulu, saya berfikir ketika saya tak punya pilihan adalah masa yang tersulit tapi ternyata memilih di antara beberapa kesempatan emas yang ada jauh lebih sulit.
Panggilan dari Smart datang, ketika surat penerimaan resmi dari ITB sudah ada di tangan saya, dan semua anggota keluarga saya menyambut gembira kelulusan saya di program pasca sarjana ITB. meskipun, ternyata memikirkan biaya kuliah yang harus saya bayar tidak kalah susahnya di banding tes masuk ITB. tapi saya sudah memutuskan, saya akan melanjutkan studi ke ITB.
Ya Rabb,,mudah – mudahan ini keputusan yang terbaik.. melihat wajah – wajah yang begitu bahagia mendengar saya lulus, membuat saya tak sanggup untuk mundur..
..Mudah – mudahan ini keputusan terbaik..
untuk saya, untuk orang tua saya, untuk keluarga besar saya dan untuk seorang yang akan menjadi pendamping hidup saya..
..mudah – mudahan menjadi keputusan yang terbaik..

My Fisrt Interview : PT DuPont Agricultural Product

13 Mei 2009..

Matahari bersinar begitu cerah, pagi sekali aku melangkah dari rumahku di selatan kabupaten bandung, barisan gunung yang membentuk “mangkok bandung” terlihat jelas dari ketinggian jalan yang kulewati.. burangrang..tangkuban perahu..bukit tunggul..manglayang..Geulis..barisan gunung Malabar..dan gunung rakutak yang tergambar jelas di belakang rumahku, seolah tersenyum begitu gagahnya meski masih tertutup kabut, semuanya seolah menyuarakan satu kata berbarengan “Semangattttt”.. sungguh ciptaan Allah yang luar bisa..

Hari ini aku pergi dari rumah, untuk “wawancara pertama” dengan PT DuPont Agricultural Product, aku begitu bahagia, gugup, mengira – ngira nantinya akan seperti apa, karena terus terang saja ini wawancara petamaku, setelah aku menanti hampir enam bulan, dan tentunya hari akan menjadi hari yang sejarah bagiku.

PT DuPont, perusahaan asing milik Amerika, salah satu perusahaan terbesar yang menjadi penguasa distributor dan formulator perstisida di Indonedia. merupakan salah satu perusahaan yang menjadi impian setiap lulusan dari jurusanku, ada 3 posisi yang diperebutkan hari itu, dan tak hanya dengan sesama UNPAD terjadi persaingan tetapi juga dengan kampus saingan, IPB. Tapi sesuai dengan karakteristik anak – anak UNPAD, hari itu kulihat wajah – wajah penuh semangat, berkumpul mendengarkan wejangan dari Prof. Entun Santosa, sebelum masuk ruangan interview PT DuPont.

Aku agak cemas saat namaku dipanggil, tapi dalam hati aku berkata

“ Ya Allah, aku serahkan ini semua padaMu, berikan aku yang terbaik Ya Allah..”

Akupun masuk ke ruangan Prof. Entun yang dijadikan ruang wawancara, dua orang staf PT DuPont yakni Pak Iskandar dan Pak Yongky sudah menunggu disana, beruntung mereka ramah sekali, awalnya aku yang sangat gugup bisa jadi rileks saat berhadapan dengan mereka. Wawancara berjalan lancar..Insya Allah..dan mereka akan menghubungiku minggu depan, jika memang aku masuk kualifikasi perusahaan yang memasang kualifikasi yang tinggi untuk staffnya itu. Ya..akupun hanya bisa berdoa mudah – mudahan Allah SWT memberikan yang terbaik untukku dan teman – teman yang lain.

Hari ini begitu istimewa bagiku, akhirnya..”aku wawancara”..mungkin bagi yang lain hari ini biasa saja, tapi bagiku, Ini hari yang bersejarah karena untuk pertama kalinya aku bisa mengeluarkan hasil latihan wawancaraku bareng Budi (Guru Les Bahasa Inggrisku,,, Thanks Ya Budi…!!), apa yang dulu kulatih bersama Budi, ternyata hampir sama dengan apa yang ditanya oleh DuPont.. Alhamdulillah.. aku melangkah dengan puas hari ini. Apapun hasilnya, aku yakin akan menjadi yang terbaik untukku dari Allah SWT untukku. Yang pasti..terima kasih Ya Allah untuk hari ini..

Kalo emang, PT DuPont Agricutural Product tercantum dalam daftar tadirku, pasti ada jalannya menuju kesana, yang penting semangat dan daya juang yang tinggi, harus selalu terpatri dalam hati..semangaat!

Senyumku..senyummu..senyum kita…

Hama Penyakit Tumbuhan 2004Picture1

5 mei 2009

Aku membuka lagi beberapa folder foto di komputerku.. “Klik” tanganku terhenti pada satu folder berjudul “Barudak Hapete Gello”, terdiam sesaat..terpaku..melihat foto yang kusimpan sejak semester satu. Foto berkepala botak dan kemeja kotak – kotak sampai foto berjubah kuning…. ada sebuah kesamaan dari ratusan foto – foto itu..

“Senyuman”. Senyuman yang selalu menghiasi setiap foto keluarga “Hpt’04”.

HPt’04 yang selalu mebuatku tersenyum, setidaknya itu yang terekam dalam foto – foto yang kusimpan..

Kini..roda kehidupan terus bergulir, aku berjalan untuk hidupku, dan kaupun berjalan untuk hidupmu,

Tapi “senyummu..senyumku..senyum kita” yang akan selalu kusimpan di hatiku.. menjadi kenangan dan kekuatan untuk kehidupan kita selanjutnya…!!

sejenak kembali ke masa itu..

CIMG1899

Keluarga Mess....

Keluarga Mess....

ndak usah lewat foto, kalo jodoh pasti kita ketemu lagi?’

Ucapan waris Pujo terlintas lagi di benakku, satu setengah tahun berlalu tanpa kisah, hanya beberapa kali, aku mendengar suaranya di telpon, dan membaca smsnya.

Pertemuanku dengannya di tengah monotonnya perkebunan tebu  di lampung tengah. Keadaan yang membuatku dekat dengannya, terjebak rutinitas membosankan di pusat penelitian, lalu pulang ke “mess lajang” yang isinya tamu – tamu perusahaan.

Tapi Waris Pujo membawa warna lain, suaranya yang merdu selalu terdengar di setiap waktu sholat dari mushola sebelah kamarku. Dia polisi, anggota brigadir mobil, sosok pria berseragam yang dengan latar belakang kehidupan yang berbeda denganku. tapi Waris Pujo berbeda, dia memberikan pencitraan yang baik dari korpsnya, dia ramah, murah senyum, dan yang aku salut sholatnya rajin, dan suaranya kalo ngaji membuat tentram orang yang mendengarnya.

Tak ada yang istimewa antara aku dengannya, dia bahkan tak tahu namaku, padahal setiap malam kita sholat berjamaah, setiap malam makan satu meja, setiap malam rebutan remote tv, setiap malam bernyanyi bersama. Persahabatan yang berjalan sewajarnya, mungkin hanya karena simbiosis mutualisme karena sedang sama – sama terasing di tengah perkebunan tebu, aku dengan proyek pkl-ku di bidang riset perusahaan tebu itu dan dia, sebagai seorang anggota Brimob, seharian penuh berpatroli keliling kebun.

Sehingga malam yang sepi, tak ada hiburan, memaksa penghuni mess lajang untuk saling mengenal, saling mengisi, saling menghibur dan menikmati malam panjang bersama.

Om Rojali “Bapak Mess” yang selalu mengetuk kamar dengan keras saat menyuruhku makan, tapi dia selalu menjadi tempat curhat anak – anak mess, Mbak ai & Mbak ema, “teman sekamarku”, dua bu guru cantik yang mengajarkanku how to be a real woman. “april”, temen kuliah yang membawaku sampai di lampung. “om Juli & papa Sinchan” yang membawa kabur “Aku,april,mbak ai & mbak ema” ampe ke tulang bawang. “april man”,anak STIPER JOGJA, yang lagi penelitian. “Toni or Chinese Food”, satu spesies manusia supeeer nyebelin yang selalu menganggu ketentraman keluarga Mess Lajang. “Mas Kris”, Pa Guru yang satu ini, sekilas mirip ikhwan mushola eh taunya anggota srimulat.. juga pria – pria berseragam dari korps brimob gunung sugih yang sedang bertugas menjaga keamanan perusahaan, ada “Om Komandan” yang hobinya berantem sama si Toni, “Bang Mora” Playboy lampung, yang kerjanya cuman telponan ma cewe, “Mas Gatot “ alias “ke’mana”, yang lucu banget, tampangnya sangar, orangnya emosian, dia pernah bilang gini.. “ ke’mana begalnya mba, begal koq pagi bener, kita orang kan masih tidur”. Pas aku tanya “mas, tadi pagi ada begal lagi yaa, koq mas malah nyantei aja di mess?”, juga “Mas Waris Pujo” orang yang tadi kuceritakan di awal.

Semua kenangan itu selalu kukenang, terpatri di hati, tersimpan di sudut fikiranku, bersama ribuan memori dengan orang – orang yang pernah kukenal.

Tapi ucapan mas Waris Pujo saat aku meminta berfoto sebelum pulang ke bandung kembali terlintas di benakku. “ndak usah lewat foto, kalo jodoh pasti kita ketemu lagi?”. Ya di setiap pertemuan pasti ada perpisahan, yang selalu kutakutkan, takut berpisah, takut tak bertemu lagi, saat semuanya terasa begitu manis. Tapi Mas Waris Pujo membuatku mengerti tentang perpisahan, menyerahkan semuanya pada nasib, menunggu “nasib” yang bisa membuatku “berjodoh” untuk bertemu kembali dengan keluarga mess lajang yang memberiku kebahagiaan selama 3 minggu aku disana.

“Perpisahan bukanlah suatu hal yang menakutkan, perpisahan itu adalah bagaimana kita menyerahkan semua pada nasib!! Tanpa ada harapan kosong yang harus dipertahankan, hanya membiarkan semuanya mengalir, aku kembali meneruskan hidupku dan merekapun kembali meneruskan hidup masing – masing. Dan ketika waktu memutuskan untuk tak pernah bertemu lagi, bagaimanapun mereka sempat memberiku sedikit kebahagiaan dalam perjalanan hidupku..(24/02/09-ditulis di tengah perjalanan pulang ke Bandung)

“..Blazer..”

ssss

Hidup memang penuh kejutan, hidup tak pernah bisa kuduga apa yang akan terjadi..

Aku belajar banyak hal dalam hidup ini, dari orang – orang sekitarku, juga dari benda – benda yang ada di sekitarku, saat ini aku belajar dari sebuah benda bernama “blazer” pakaian yang dipakai para wanita carrier (cita – citaku hemmm…).

Setelah lulus kuliah, kedua orang tuaku begitu bersemangat menyiapkan pakaian untukku kerja, ayahku memberikan satu stel blazer dan ibuku memberiku uang 500ribu, untuk belanja keperluanku merubah penampilan untuk menjadi seorang wanita karier.

Juga kakak sepupuku yang pernah bekerja di bank terbesar Indonesia mewariskan beberapa “Blazer”nya untukku, setiap hari aku mematut – matut diriku di cermin, terkagum – kagum dengan diriku sendiri yang nampak begitu elegant dengan blazerku, tersenyum – senyum sendiri, rasanya tak sabar menanti hari pertamaku kerja.

Tapi hidup kadang tak bisa diduga, saat itu, lebih dari dua puluh perusahaan yang kulamar, belum juga memberikan respon padaku, jangankan diterima kerja, panggilan untuk wawancarapun tak aku dapatkan. Akupun mulai lelah mencoba blazer – blazerku, yang semula sudah aku matching-in sama kerudung dan sepatu, blazer yang telah kusetrika terpajang cantik di lemariku. Setiap kali aku menatapnya, mereka seolah berkata padaku :

“ kapan, kamu mau memakaiku di hari pertama kerjamu Rahmi”

Aku trenyuh melihat blazerku, yang sudah mulai kusut karena terlalu sering kucobain.

Hampir lima bulan berlalu setelah aku lulus, masih belum juga ada panggilan kerja, hanya salah satu bank yang memanggilku itupun aku gagal di tes pertama, dan ironisnya aku belum sempat memakai blazerku, karena tes pertama adalah tes bahasa inggris yang pelaksanaan di sebuah aula besar, jadi kufikir lebih baik blazernya kupakai nanti pas aku lolos ke tes wawancara.

Akupun kembali merenung di kamarku, menatap blazer – blazerku yang tertata rapih di lemari bajuku. Akupun sedih, sedikit kecewa dengan diriku, tapi tetap kuusahakan untuk tak menangis, karena aku yakin suatu saat, blazer – blazer ini akan kupakai untukku bekerja, meskipun saatnya tak tau kapan.

One new message . tertulis di lcd handphoneku.

“ mi, aku mau kompre minggu depan, boleh minjen blazer ga?”

Sms dari salah satu temanku yang akan sidang akhir minggu depan. Aku tersenyum, kuraih beberapa blazerku, kumasukkan ke dalam tas kain. Lalu esoknya kubawa ke kampus.

“ terima kasih Rahmi” dia tersenyum. Sebenarnya agak berat meminjamkan barang yang kita sendiri belum sempat memakainya. Tapi entahlah saat itu, ada perasaan bahagia saat melihat temanku memakai blazerku.

“ mi, aku minjem blazernya dong, buat foto ijazah” kata temenku yang lain. Akupun memberinya dua blazerku agar dia bisa memilih. Dan entahlah, akupun merasakan kebahagiaan itu, saat melihat hasil fotonya, temenku terlihat begitu cantik. Begitu seterusnya, aku selalu bahagia kalo ada yang meminjam blazerku, setidaknya blazerku bisa lebih bermanfaat, daripada hanya sekedar terpajang cantik di lemariku.

Aku jadi ingin tersenyum sendiri, tentang rahasia Allah SWT, tentang setiap detik kehidupanku yang telah Allah SWT atur, sungguh unik, sungguh tak diduga.

“ pemikiranku yang simple, berfikir dengan blazer – blazer itu aku akan menemukan kebahagiaanku, saat aku melangkah dengan gayanya di hari pertamaku kerjat, tapi ternyata rahasia Allah SWT yang begitu istimewa, memberiku kebahagiaan, saat melihat teman – temanku begitu gaya memakai Blazerku, tapi apapun bentuknya itu, saat ini aku merasa begitu bahagia dengan blazer – blazer itu”

Dan aku hanya ingin berkata.. Terima kasih Ya Allah..

 

Baca lebih lanjut

Nganggur!!

Kata yang yang tak pernah terfikir di benakku sebelumnya, kuliah di jurusan “Hama dan Penyakit Tumbuhan” yang mengharuskanku hidup satu hari delapan belas jam, kuliah.. praktikum.. tugas.. laporan praktikum.. presentasi…. juga nama – nama serangga… jamur.. bakteri.. yang semuanya nama ilmiah yang harus kuhapal diluar kepala, hingga berujung pada suatu riset panjang dan melelahkan yang menyita waktuku, tapi big surprise-nya aku adalah salah satu dari tiga lulusan tercepat dari jurusan yang kata orang “mudah masuknya tapi susah untuk keluar”, dan sebagai hadiah dari kerja kerasku “aku lulus dengan pujian” dan menjadi salah satu orang yang menerima “tepuk tangan meriah” di acara wisudaku!!
“ dengan IPK diatas 3.5 kamu bisa memilih untuk kerja dimanapun.. setidaknya dengan IPK segini, saringan pertama kamu pasti lulus, dan selanjutnya terserah kamu Rahmi, Bapak harap kamu juga bisa cum laude di masyarakat” ucapan Prof. Sadeli, dosen pembimbingku, sesaat setelah dia menobatkanku sebagai “Sarjana Pertanian”.. airmata bahagia itu mengalir deras di pipiku, usahaku yang tak mudah untuk menjadi sarjana.
Rasa bangga…haru..bahagia…semua bercampur jadi satu.. semua berkata “selamat Rahmi.. selamat..” semua tersenyum di hari itu.. akupun menangis tiada henti.. aku memang cengeng.. itu yang dibilang Prof. Sadeli, tapi aku begitu bahagia saat itu.. 10 November 2008..
Tapi ternyata, perayaan kelulusanku benar – benar hanya euphoria sesaat.. yaa.. setelah pak Rektor memindahkan tali topi togaku ke kanan “Welcome to the real world Rahmi”
Akupun tak diam.. dengan ijazah dan transkrip nilai yang diberikan UNPAD padaku aku mulai melamar pekerjaan, standart perusahaan yang kulamar pun cukup tinggi, aku hanya melamar pada perusahaan modal asing dan perusahaan yang ada “tbk.”nya.. kufikir, aku orang yang dicari perusahaan, “lulus cepat, IPK tinggi, aktif organisasi, dan penghargaan – penghargaan tingkat nasional yang menambah daftar panjang CV-ku”..aku selalu berfikir cari kerja itu mudah untuk orang sepertiku. Bahkan ketika seorang teman berkata “wisuda = wilujeung susah damel”, aku hanya tersenyum, dan berkata “lo’ aja kali”..
Tapi ternyata, hidup kadang tak semudah apa yang kita fikir, hidup tak sesimpel apa yang kita rencanakan. Aku lulus di saat krisis global, beberapa perusahaan pertanian yang menjadi targetku tidak membuka lowongan untuk fresh graduate, akupun tak patah arang, aku melamar ke beberapa Bank, perusahaan pembiayaan, media, dan banyak perusahaan lainnya.
Dan seperti yang kubilang hidup tak sesimpel apa yang kita rencanakan, lebih dari dua puluh perusahaan yang kulamar belum juga memanggilku. Aku mulai merasa kecewa dengan keadaan ini, aku mulai menangis, aku begitu sedih, tak pernah terfikir di benakku aku akan melewati masa seperti ini, terus terang saja aku tak pernah mempersiapkan diri untuk menjadi pengangguran ketika aku lulus..!!
Tapi aku masih beruntung, aku punya orang tua yang selalu mendukung, dengan setia mamah menghiburku, Papah pun tak pernah terlalu sering bertanya tentang pekerjaan. Mungkin karena mereka tahu hatiku sedih saat mereka bertanya.
“Masih belum ada panggilan Kak?”
Akupun menjaga semangatku, dibantu seorang teman yang selalu bisa membuatku tersenyum di masa – masa itu, yang selalu berkata “semangat Rahmi”.
Aku menulis ini bukan untuk menakut – nakuti orang tentang betapa sulit mencari kerja, aku hanya ingin membagi cerita. Mengevaluasi diriku, karena kita tak pernah tahu apa yang terbaik untuk kita, Allah SWT punya rahasia, Allah SWT sudah mengatur setiap detik kehidupan ini. Akupun sampai sekarang tak tahu apa sebenarnya rahasia yang Allah SWT simpan untukku, tapi keyakinan dalam hati yang akan terus kujaga..
“ semua yang terbaik dan terindah yang Allah SWT rencanakan akan datang di waktu yang tepat, biarlah semua berjalan sebagaimana mestinya…”