sejenak kembali ke masa itu..

CIMG1899

Keluarga Mess....

Keluarga Mess....

ndak usah lewat foto, kalo jodoh pasti kita ketemu lagi?’

Ucapan waris Pujo terlintas lagi di benakku, satu setengah tahun berlalu tanpa kisah, hanya beberapa kali, aku mendengar suaranya di telpon, dan membaca smsnya.

Pertemuanku dengannya di tengah monotonnya perkebunan tebu  di lampung tengah. Keadaan yang membuatku dekat dengannya, terjebak rutinitas membosankan di pusat penelitian, lalu pulang ke “mess lajang” yang isinya tamu – tamu perusahaan.

Tapi Waris Pujo membawa warna lain, suaranya yang merdu selalu terdengar di setiap waktu sholat dari mushola sebelah kamarku. Dia polisi, anggota brigadir mobil, sosok pria berseragam yang dengan latar belakang kehidupan yang berbeda denganku. tapi Waris Pujo berbeda, dia memberikan pencitraan yang baik dari korpsnya, dia ramah, murah senyum, dan yang aku salut sholatnya rajin, dan suaranya kalo ngaji membuat tentram orang yang mendengarnya.

Tak ada yang istimewa antara aku dengannya, dia bahkan tak tahu namaku, padahal setiap malam kita sholat berjamaah, setiap malam makan satu meja, setiap malam rebutan remote tv, setiap malam bernyanyi bersama. Persahabatan yang berjalan sewajarnya, mungkin hanya karena simbiosis mutualisme karena sedang sama – sama terasing di tengah perkebunan tebu, aku dengan proyek pkl-ku di bidang riset perusahaan tebu itu dan dia, sebagai seorang anggota Brimob, seharian penuh berpatroli keliling kebun.

Sehingga malam yang sepi, tak ada hiburan, memaksa penghuni mess lajang untuk saling mengenal, saling mengisi, saling menghibur dan menikmati malam panjang bersama.

Om Rojali “Bapak Mess” yang selalu mengetuk kamar dengan keras saat menyuruhku makan, tapi dia selalu menjadi tempat curhat anak – anak mess, Mbak ai & Mbak ema, “teman sekamarku”, dua bu guru cantik yang mengajarkanku how to be a real woman. “april”, temen kuliah yang membawaku sampai di lampung. “om Juli & papa Sinchan” yang membawa kabur “Aku,april,mbak ai & mbak ema” ampe ke tulang bawang. “april man”,anak STIPER JOGJA, yang lagi penelitian. “Toni or Chinese Food”, satu spesies manusia supeeer nyebelin yang selalu menganggu ketentraman keluarga Mess Lajang. “Mas Kris”, Pa Guru yang satu ini, sekilas mirip ikhwan mushola eh taunya anggota srimulat.. juga pria – pria berseragam dari korps brimob gunung sugih yang sedang bertugas menjaga keamanan perusahaan, ada “Om Komandan” yang hobinya berantem sama si Toni, “Bang Mora” Playboy lampung, yang kerjanya cuman telponan ma cewe, “Mas Gatot “ alias “ke’mana”, yang lucu banget, tampangnya sangar, orangnya emosian, dia pernah bilang gini.. “ ke’mana begalnya mba, begal koq pagi bener, kita orang kan masih tidur”. Pas aku tanya “mas, tadi pagi ada begal lagi yaa, koq mas malah nyantei aja di mess?”, juga “Mas Waris Pujo” orang yang tadi kuceritakan di awal.

Semua kenangan itu selalu kukenang, terpatri di hati, tersimpan di sudut fikiranku, bersama ribuan memori dengan orang – orang yang pernah kukenal.

Tapi ucapan mas Waris Pujo saat aku meminta berfoto sebelum pulang ke bandung kembali terlintas di benakku. “ndak usah lewat foto, kalo jodoh pasti kita ketemu lagi?”. Ya di setiap pertemuan pasti ada perpisahan, yang selalu kutakutkan, takut berpisah, takut tak bertemu lagi, saat semuanya terasa begitu manis. Tapi Mas Waris Pujo membuatku mengerti tentang perpisahan, menyerahkan semuanya pada nasib, menunggu “nasib” yang bisa membuatku “berjodoh” untuk bertemu kembali dengan keluarga mess lajang yang memberiku kebahagiaan selama 3 minggu aku disana.

“Perpisahan bukanlah suatu hal yang menakutkan, perpisahan itu adalah bagaimana kita menyerahkan semua pada nasib!! Tanpa ada harapan kosong yang harus dipertahankan, hanya membiarkan semuanya mengalir, aku kembali meneruskan hidupku dan merekapun kembali meneruskan hidup masing – masing. Dan ketika waktu memutuskan untuk tak pernah bertemu lagi, bagaimanapun mereka sempat memberiku sedikit kebahagiaan dalam perjalanan hidupku..(24/02/09-ditulis di tengah perjalanan pulang ke Bandung)

6 thoughts on “sejenak kembali ke masa itu..

  1. enak ya punya kenangan manis di GMP. tapi ada koreksi dikit, mess tempatmu menginap itu namanya bukan “mess lajang” tapi “mess senior”. Mess lajang tempatnya di sebelah kanan mess senior. aku di GMP dan tinggal di “Mess Lajang”, tapi kalo makan ya aku gabung di mess senior bareng ama mahasiswa pkl, brimob atau kalangan kontraktor, sebab di Mess Lajang tidak ada yang melayani makan, tapi kamarnya lebih gede dan eksklusif.

  2. Oooh…saya baru tau mas,,!! hehe,,,thanks koreksinya,, Iya mas,, saya beruntung banget bisa PKL disana,,, 3minggu yang penuh dengan pembelajaran (jujur saja, di gunung madu pertama kalinya saya melihat perkebunan tebu yang luaaaaaassss banget!!!) hehe,, juga riset – riset gunung madu di bidang pengendalian hayati yang bikin saya takjub.
    dan yang tak kalah berkesan,,adalah sambutan orang – orang Gunung Madu yang baek banget…!! saya benar2 terkesan,, Kalo boleh tahu mas di bagian apa di GMP?
    ohya,,kalo mas kenal & ketemu sama Pak Remaja, Pak Suswanto, Pak Saefudin, Pak Sahril,,salamin dari rahmi yaa… semuanya itu orang – orang riset yang sangat membantu saya selama disana..!!
    tersimpan juda keinginan untuk kembali dan bekerja disana, tapi saya tunggu ga buka2 recruitment staff researchnya..tapi saya dah masukin lamaran (nekad),.,mudah – mudahan suatu hari ada respon dan saya bisa kembali kesana..amien…!!

  3. Assalammualaikum

    Mba saya mau tanya kalo dari raja basa ke gmp yg di nunyai pake kendaraannya apa ya? Kendaraan umumnya..
    Tolong dibalas ke alamat email saya ya mba.. terima kasih
    Wassalammualaikum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s