Papah’lah yang jadi juaranya..

seharusnya akhir minggu ini,,kuhabiskan bersama keluarga di pangandaran. pantai pangandaran yang terletak di pesisir selatan Jawa Barat, yang merupakan salah satu pesona wisata Jabar, hampir setiap tahun saya sekeluarga berwisata kesana, tapi tidak dengan tahun ini. gara – gara temen Mamah, salah memesan penginapan, hanya Mamah yang bisa pergi.  karena, hari senin, ini ada perpisahan di sekolah Papah, jadi Papah tidak bisa ikut, sedang saya, ada pelatihan hari senin ini, begitupun juga dengan adik saya yang masih ada ujian.

tinggallah, kami bertiga di rumah, memang ini bukan kali pertama. tapi kali ini saya begitu salut sama Papah. gara – gara  semaleman internetan, jadi paginya saya bangun kesiangan, alangkah terkejutnya melihat apa yang terjadi pagi ini. Papah dengan santai sedang menikmati kopi, buatannya sendiri, dan ketika saya ke dapur untuk menghangatkan nasi, semua hidangan sarapan sudah siap. aduuuh..jadi malu sendiri..!!!

Papah memang seperti itu, terbiasa melakukan segala hal pekerjaan rumah tangga. mungkin, karena dulu, sejak SMA sudah hidup jauh dari orangtua, bahkan merantau dari Bangka ke Bandung.

Melihatnya sosoknya yang begitu bersemangat sebagai seorang Guru, berangkat di pagi hari, saat matahari baru saja muncul. berjalan penuh semangat melewati pematang sawah, dan meskipun sudah sertifikasi PNS, masih saja belum terfikir untuk punya kendaraan pribadi. Saya selalu bangga padanya dan pada profesinya.

Papah, yang selalu menasehati saya, meskipun sebagai anak, kadang tak sependapat dengannya. seperti, ketika Papah menyuruh saya honor di distan Kab. bangka Tengah, sambil nunggu tes CPNS, tapi karena keegoisan saya, saya menolaknya. malah, saya minta kuliah S2, yang artinya, Papah masih harus bekerja untuk saya kuliah. tapi beliau tetap dengan setia mendukung saya S2, dan dengan penuh harap selalu menyemangati, saya untuk menyelesaikan S2 dan menjadi pendidik sepertinya, atau setidaknya mendapatkan pekerjaan yang layak, karena saya tahu Papah turut sedih melihat saya belum mendapatkan kerja setelah saya lulus.

dulu, saya pernah berbeda pendapat dengan Papah, ketika saya memutuskan ikut pendidikan dasar pecinta alam di kampus. memang, dari kecil Papah tak pernah memarahi saya maupun adik saya. kalo Papah marah, beliau hanya diam. begitupun, waktu  saya ikut pend. pecinta alam, beliau hanya diam, lalu saya yang keras kepala berteori tentang persiapan fisik dan mental untuk menjadi seorang pertanian yang siap ditempatkan di perkebunan sebagai alasan saya ikut pecinta alam. Papahpun mengalah, dalam diam beliau mengizinkan saya pergi, meski saya sangat tahu dan mengerti Papah berat melepas saya. dan yang paling saya inget,, sebelum saya pergi, Papahlah yang menyiapkan semua perbekalan saya, termasuk kering tempe. setetes airmata itupun mengalir sebelum saya pergi. dan alangkah terkejutnya saya, ketika melihat sosoknya di acara penutupan pendidikan pecinta alam di kampus. tak pernah menyangka Papah akan datang, menjemput saya pulang.bahkan saya tak mempercayai ucapan pelatih, yang menyemangati ketika saya terseok – seok turun Manglayang “Cepat tuan Rahmi, orangtuamu sudah menunggu di kampus”. ah tak mungkin, mereka datang, apalagi Papah…! tapi ternyata saya salah..

dan banyak lagi kenangan tersimpan di benak ini.. Papah, yang selalu ada di setiap detik kehidupan saya, selalu mendukung gerak dan langkah saya, dan juga  do’a – do’a yang selalu dipanjatkan di setiap sujudnya, untuk kebahagiaan saya. pokoknya “Papah’lah yang Jadi Juaranya..!!”

4 thoughts on “Papah’lah yang jadi juaranya..

  1. Ayah yang baik…
    Tapi saya juga ikut menyesal waktu kamu ditawari Ayah kamu untuk honor di Distan. Kenapa gak mau ????

    Kamu persis dengan saya 4 tahun yang lalu. Dulu saya sempat menolak untuk honor di Kecamatan karna saya masih kuliah semester 2. Saya juga masih ingin bebas belum berpikiran untuk bekerja. Tapi akhirnya saya kuliah sambil kerja.

    Alangkah saya menyesalnya seumur hidup saya jika waktu itu saya menolak keinginan ayah saya untuk menjadikan saya pegawai honor di Kecamatan. Dan alangkah menangisnya hati saya jika saat ini mereka melihat saya pengangguran.

    Dan akhirnya tanggal 14 Mei 2009 kemarin, saya menerima SK CPNS dan tahun depan saya Prajabatan dan resmi menjadi PNS.5 tahun saya pegawai honor, kalau tanpa semangat Ayah yang meyakinkan saya untuk sabar, mungkin saya sekarang masih merepotkan beliau. 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Thank’s Dad…

    Sekarang saya tinggal memikirkan kuliah untuk S-2 dengan biaya sendiri. Saran saya, ambillah kesempatan kerja bila ada, untuk urusan sekolah bisa sambil kerja karna kamu sudah punya S-1nya. Karna kesempatan kerja tidak banyak apalagi PNS.

    Sukses buat kamu… dan turuti nasehat ortu.

  2. Ayah yang baik…
    Tapi saya juga ikut menyesal waktu kamu ditawari Ayah kamu untuk honor di Distan. Kenapa gak mau ????

    Kamu persis dengan saya 4 tahun yang lalu. Dulu saya sempat menolak untuk honor di Kecamatan karna saya masih kuliah semester 2. Saya juga masih ingin bebas belum berpikiran untuk bekerja. Tapi akhirnya saya kuliah sambil kerja.

    Alangkah saya menyesalnya seumur hidup saya jika waktu itu saya menolak keinginan ayah saya untuk menjadikan saya pegawai honor di Kecamatan. Dan alangkah menangisnya hati saya jika saat ini mereka melihat saya pengangguran.

    Dan akhirnya tanggal 14 Mei 2009 kemarin, saya menerima SK CPNS dan tahun depan saya Prajabatan dan resmi menjadi PNS.5 tahun saya pegawai honor, kalau tanpa semangat Ayah yang meyakinkan saya untuk sabar, mungkin saya sekarang masih merepotkan beliau. 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Thank’s Dad…

    Sekarang saya tinggal memikirkan kuliah untuk S-2 dengan biaya sendiri. Saran saya, ambillah kesempatan kerja bila ada, untuk urusan sekolah bisa sambil kerja karna kamu sudah punya S-1nya. Karna kesempatan kerja tidak banyak apalagi PNS.

    Sukses buat kamu… dan turuti nasehat ortu.

    • @ Rahmat Kedai : Yup..Bener Banget Papah segalanya..dan tentunya Mamah juga segalanya..
      @Bootingsoblog: terimakasih atas commentnya yang panjang dan sangat inspiratif,,waktu Papah menyuruh saya honor di Distan Bangka, saat itu saya baru saja lulus kuliah, saya akuin saya masih idealis. Saya menghitung, kebutuhan hidup diBangka akan lebih besar di banding biaya hidup di Bandung, makanya saya tak ambil. begitu deh..
      tapi terimakasih ya sudah mengingatkan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s