Sepotong Kisah yang (Tak) Harus dikenang

Dadaku bergetar saat Airin menyebut namanya

“Bapak kenal Mbak Inda” tanyanya dengan tatapan berbinar. Duniaku terasa berhenti berputar. Nama yang sudah hampir tujuh tahun mati – matian kulupakan tiba – tiba terdengar dari mulut comel Airin, mahasiswa magang di perusahaanku.

Aku tersenyum tawar. “Ya Inda teman seangkatan saya”

“ Ohya..wah..kebetulan sekali Pak,Mbak Inda itu dosen favorit di kampus, dia cantik, baik, keibuan” Puji Airin. Aku menelan ludah berusaha untuk tak terpancing ucapan Airin.

Tapi ucapan Airin siang itu membuka kembali luka lamaku, wajah polos berbalut busana muslim itu kembali terlintas, senyumannya yang tampak tak berdaya, juga pipinya yang memerah setiap kali aku menatapnya, Aaah..Inda, memori yang mati – matian kulupakan seiring dengan pelarianku ke perkebunan ini.  Hujan di sebuah sore tujuh tahun yang lalu itu yang menjadi akhir dari segalanya.

Dengan tertunduk malu, Inda berkata “ ini kali ketiga ada laki – laki yang akan menghitbah Inda, apa Rey akan diam saja, apa Inda harus menolak lagi..”

Aku terdiam. “ Inda sudah kehabisan alasan untuk menolak, kali ini laki – laki yang datang adalah teman Inda sesama aktivis”

Dan entahlah.. saat itu dengan lantang aku berkata

“lebih baik Inda nikah dengan dia, tak usah menunggu Rey lagi” Inda hanya diam, pandangan semakin tertunduk, aku tak tahu pasti apa yang Inda rasa sore itu. Yang ku tahu pasti, sudut hatiku menyesal melihatnya bersanding begitu anggun dengan laki – laki pilihanku di hari pernikahannya. Dan tujuh tahunpun bergulir dengan cepat, Inda seakan terlupakan seiring dengan hadirnya Nazwa istriku, juga Faiq dan Giska Anakku..tapi hari ini, memori itu kembali terbuka,dari celoteh gadis supel bernama Airin itu, tanpa kuminta, automatically dia bercerita banyak tentang Inda,ah..entahlah apa yang kurasa,,

Inda memang sangat berarti,,

Inda memang sangat kusayang,,

Inda memang poros putaran duniaku..

Tapi itu semua dulu!! Sekali lagi aku katakan itu semua dulu!! Sekali lagi aku yakinkan itu semua dulu!

Kini..Nazwa, Faiq dan Giska yang sangat berarti, yang paling kusayang dan poros putaran duniaku,kini..nanti dan selamanya..

Inda hanyalah sepotong masa lalu, tak perlu kukenang, tak perlu kusesali, hanya perlu dijadikan pelajaran dalam hidup ini..

Dan nun jauh disana, di seberang pulau sana, wajah ayu itu seketika memerah ketika Airin berkata dengan tatapan berbinar

“ Bu Inda, ada salam dari Pak Rey, beliau pembimbingku selama di lampung”

(Salam Hangatku untuk “Mr. R”  buat inspiring storynya!!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s