Banjir dan Etika Lingkungan

Banjir, merupakan suatu fenomena alam yang sudah tidak asing lagi terdengar di telinga penduduk Indonesia. Hampir setiap kali musim hujan datang, banjirpun selalu tak ketinggalan untuk turut menyapa beberapa daerah di Indonesia. Langganan banjir yang hampir dating setiap kali musim penghujan, adalah luapan sungai citarum di wilayah kabupaten Bandung, banjir luapan Bengawan solo di Jawa Tengah juga luapan DAS Brantas. Kerugian yang diakibatkan musibah inipun tak tanggung – tanggung, ratusan bahkan ribuan penduduk menjadi korban, ribuan rumah tergenang juga rusak beberapa infrasturktur yang ada seperti sekolah, tempat peribadatan, pasar dan lainnya, miliaran bahkan triliunan rupiah harus dikeluarkan oleh pemerintah dalam upaya menanggulangi peristiwa langganan ini.

Banjir yang tak kalah spektakuler dengan banjir yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, adalah banjir langganan yang selalu menghampiri penduduk di jantung kota, pusat kehidupan Indonesia, Jakarta. Setiap musim penghujan, banjir tak pernah absen menyapa penduduk di kota ini, dan tentunya penduduk Jakarta pun terkena imbasnya. Seperti kejadian banjir pada hari senin, 25 oktober 2010 kemarin yang menyebabkan kelumpuhan di sebagian besar ruas jalan penting di kota Jakarta.

‘Jakarta lumpuh total’, kalimat itu dirasa tepat untuk mengambarkan kondisi kota Jakarta pada hari senin 25 oktober 2010, hujan yang menguyur kota Jakarta selama kurang lebih tiga jam berakibat fatal terhadap aktifitas warga kota Jakarta sore itu. Beberapa ruas jalan utama kota Jakarta mengalami kelumpuhan total,dikarenakan tingginya air yang meluap dan  mengenangi jalan, sehingga kendaraan bermotor menumpuk karena tidak bisa melewatinya. Banjir sedalam 30 sentimeter hingga 1,5 meter yang bermunculan di 36 titik membuat lalu lintas di jalan protokol lumpuh. Beberapa ruas jalan, seperti  Jalan Kapten Tendean, Jalan Wolter Monginsidi, lumpuh dan tidak bisa dilewati oleh kendaraan bermotor dikarenakan luapan sungai krukut yang mencapai ketinggian 1 meter.

Berdasarkan pantauan dari layar monitor TMC Polda Metro Jaya kemacetan total masih terjadi sampai pukul 21.00 WIB di beberapa terlihat di beberapa ruas penting seperti Jalan Gatot Subroto, Slipi, Grogol, Tomang, Jenderal Sudirman, Blok M, ke arah Blok M, Cawang, Dewi Sartika, Pasar Minggu, Mampang, dan Hayam Wuruk.  Baru menjelang pukul 23.30 arus mulai bergerak sedikit demi sedikit.

Kemacetan panjang, mengambarkan betapa besar pengaruh banjir yang terjadi sore itu, meskipun  pada dasarnya kemacetan sudah merupakan makanan sehari – hari penduduk Jakarta, namun dapat dibayangkan berapa besar opportunity cost yang hilang akibat kemacetan seperti gambar di atas.

Beberapa pejabat berwenangpun mulai memberikan pendapatnya mengenai banjir yang terjadi pada tanggal 25  oktober itu. Prijatno, wakil Gubernur DKI Jakarta mengatakan bahwa banjir yang terjadi dikarenakan aspek teknis yaitu tingginya curah hujan saat itu, yaitu mencapai curah hujan mencapai 110-120 mm, sementara daya tampung gorong-gorong atau drainase di Jakarta hanya 80 mm. sehingga air tidak tertampung lagi di dalam gorong – gorong, oleh karena itu meluap dan mengenagi jalan raya dan perumahan penduduk. Namun, jika dilihat lebih jauh bukan hanya aspek teknis yang merupakan penyebab terjadinya banjir Jakarta, namun ada aspek non teknis yang berkaitan dengan kebiasaan penduduk memperlakukan lingkungan sekitarnya. Yang terjadi saat ini, adalah perpaduan beberapa masalah, pertama ukuran gorong – gorong yang kekecilan, ditambah lagi sudah kekecilan, isinya dipenuhi dengan sampah, sebagai contoh ketika dilakukan gotong royong dalam membersihkan gorong- gorong di jalan Panjaitan diperlukan 10 – 15 truk diperlukan untuk mengangkut sampah yang ada dalam gorong – gorong yang berfungsi sebagai system drainase kota itu. Bahkan beberapa anekdot lucu muncul, saking sempit dan padatnya kota Jakarta, tempat pembuangan sampahpun semakin sulit ditemui, maka jangan salah jika anda menemukan kasur ataupun kulkas di dalam gorong – gorong.

Kondisi seperti ini perlu mendapatkan perhatian yang baik dari pemerintah daerah setempat, bukan hanya dengan mengeluarkan dana yang besar untuk mencegah terjadinya banjir, seperti pada upaya penyelesaian Banjir Kanal Timur (BKT), dimana dilakukan perbaikan pada sejumlah drainase, sampai akhir tahun ini Pemda DKI telah mengeluarkan biaya yang sangat besar mencapai Rp 66 Miliar, untuk membersihkan 36 titik drainase yang ada di wilayah DKI. Sedangkan pada tahun, 2011 pemda DKI akan mengeluarkan dana sampai 110 miliar untuk membangun drainase pencegah banjir. Bukan biaya yang kecil yang akan dikeluarkan, maka alangkah sayang sekali jika upaya perbaikan teknis dalam rangka penanggulangan banjir, tidak diikuti dengan perubahan sikap warga Jakarta dalam memperlakukan lingkungannya dengan baik.

Pandangan etika masyarakat jakarta saat ini sehingga perilakunya mengakibatkan masalah lingkungan

Pandangan etika masyarakat terhadap wilayah yang ditempatinya, sangat mempengaruhi keadaan wilayah yang ditempatinya itu. Jika masyarakat lebih beretika lingkungan, maka perlakuan yang diberikan kepada lingkungannya juga akan lebih baik.

Seperti lirik lagu jaman dulu, yang menyatakan bahwa “ Jakarta, Ibu Kota, Tumpuan Harapan”. Saat ini, Jakarta memang pusat kegiatan perekonomian di Indonesia, setiap cm kota Jakarta merupakan lapak kegiatan perekonomian, lapak kegiatan “mengadu nasib” untuk mendapatkan perbaikan taraf hidup secara ekonomi. Luasan wilayah DKI Jakarta adalah 661,52 km² (lautan : 6.977,5 km²), dengan jumlah penduduk 7.552.444 jiwa (2007) dan bertambah setiap waktu. Dapat dibayangkan padatnya penduduk yang menempati kota Jakarta saat ini, semua orang berlomba – lomba mengadu nasib untuk mendapatkan perbaikan hidup secara ekonomi. Termasuk para pendatang, baik yang resmi maupun yang tidak resmi yang mendatangi kota Jakarta.

Arus urbanisasi yang cukup besar ke dalam kota Jakarta, turut menjadi penyebab terjadinya banjir di kota Jakarta. Kehidupan Jakarta yang cukup keras dan komersil, berimbas pada tidak semua orang mempunyai lapak yang nyaman untuk hidup di Jakarta. Sebagian penduduk miskin, mendirikan rumah – rumah illegal di sepanjang bantaran kali yang ada di Jakarta, otomatis dengan bertambahnya penduduk di daerah yang seharusnya menjadi ruang terbuka hijau (RTH) di kota Jakarta, akan berdampak terhadap terjadinya banjir di kota Jakarta.

Salah satu contohnya, adalah perumahan liar di bantaran Kali Adem, Jakarta Utara, tidak kurang dari 700 bangunan liar berdiri di bantaran kali, hal ini sangat mengkhawatirkan dikarenakan akan menyempitnya luasan sungai dengan adanya bangunan liar itu, dan dapat dibayangkan berapa banyak sampah yang dibuang ke sungai dengan ada bangunan liar di sepanjang kali yang ada di beberapa daerah di Jakarta, maraknya bangunan liar ini tidak terlepas dari banyaknya pendatang yang masuk ke kota Jakarta yang tidak beruntung secara ekonomi.

Secara teknis banjir terjadi karena adanya penyimbangan aliran masuk dan keluar dari suatu zona bagian sistem daerah aliran sungai; yaitu ketika jumlah air yang masuk melampaui kapasitas sungai untuk melakukan pengurasan. Simpanan ini dipengaruhi oleh intensitas curah hujan, kondisi daerah aliran sungai dan khususnya kondisi sungai. Sehingga perubahan peradaban daerah aliran sungai yang terjadi di Jakarta juga dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir, dikarenakan sungai menjadi sempit dan dangkal, tanah mulai kesulitan menyerap air sehingga infiltrasi tidak terjadi.

Selain perilaku menyimpang yang dilakukan oleh penduduk lapisan bawah, penyimpangan terhadap penggunaan lahan di Jakarta juga dilakukan oleh para kaum atas yang mendirikan bangunan – bangunan seperti mall, perumahan elite, apartemenn dan bangunan konsumtif lainnya. Hal ini akan memberikan dampak yang kurang baik bagi lingkungan sekirar, selain akan meningkatkan jumlah sampah yang dihasilkan dikarenakan sikap konsumtif warga Jakarta, daerah resapan yang ada di jakart akan semakin berkurang, jadi kerika hujan turun terus menerus maka dengan cepat air akan meluap menggenangi jalan – jalan dan perumahan.

Rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya merupakan salah satu factor yang mengancam dan dapat menyebabkan bahaya banjir di lingkungan sekitar. Padahal pemerintah sudah menetapkan peraturan yang cukup tegas terhadap permasalahan sampah ini, namun masyarakat masih belum memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga lingkungannya masing – masing. Ditambah lagi, terbatasnya areal tempat pembuangan sampah di Jakarta turut berpengaruh terhadap menumpuknya sampah di sebagian besar kota Jakarta. padahal jika sudah terjadi banjir, kerugian yang akan diterima masyarakat akan sangat besar.

Perkembangan etika lingkungan

Fenomena – fenomena bencana yang sangat sering terjadi di Indonesia maupun di belahan bumi lainnya, sangat terkait dengan etika lingkungan, dengan bagaimana seharusnya manusia memaknai alam dan memperlakukan alam semesta dengan segala isinya. Dalam etika lingkungan, ditegaskan bahwa permasalahan lingkungan yang terjadi bukan hanya semata – mata dikarenakan aspek teknis, namun juga sangat berkaitan dengan masalah etika yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan.

Sikap sewenang – wenang manusia terhadap lingkungannya seperti yang terjadi pada sebagian besar masyarakat di Jakarta, merupakan salah satu cerminan faham antroposentrisme. Dalam faham antroposentrisme shallow environmental ethics dikatakan bahwa Manusia adalah  penguasa (diberi mandat untuk menguasai) bumi dan alam semesta, semua sumberdaya  diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Paha mini muncul atas dasar ketentuan dari beberapa agama yang menyebutkan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki keistimewaan dan diberikan mandat untuk mengatur alam semesta, dan semua sumber daya yang ada di alam ini disiapkan untuk memenuhi kebutuhan manusia, beberapa tokoh dalam faham ini antara lain Aristoteles (384 SM – 322 SM) Tumbuhan disiapkan untuk kepentingan binatang dan binatang disiapkan untuk kepentingan manusia (The politics), Thomas Aquinas (1225-1274) Semua kehidupan membentuk rantai kehidupan mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling sempurna yaitu Tuhan, Manusia berada di tempat yang paling dekat dengan Tuhan (Summa Theologia)

Akibat tingginya kedudukan manusia seperti yang diungkapkan dalam paham antroposentrisme, menghasilkan beberapa fenomena dan kerusakan yang terjadi akhir – akhir ini, seperti polusi, hilangnya ekosistem, kepunahan spesies. Karenan manusia memiliki hak sepenuhnya terhadap alam dan segala macam isinya, dengan kata lain manusia yang menganut paham ini dapat melakukan kesewang – wenangan terhadap alam.

Kemudian terkait dengan munculnya berbagai macam permasalahan lingkungan yang terjadi, munculnya paham baru dalam memandang masalah lingkungan ini, yaitu paham biosentrik yang dengan ekstrim mengatakan bahwa manusia tidak berhak untuk berlaku sewenang – wenang terhadap alam sekitar, Karena kedudukan manusia sama dengan makhluk hidup lain yang ada di alam ini. Namun paham biosentrik ini sangat sulit untuk diterapkan, karena jika kedudukan kita setara dengan sayuran atau ikan bagaimana cara kita mendapatkan makanan, sementara kita tidak berhak untuk membunuh makhluk hidup lain (sayuran/ikan) karena kedudukan kita setara dengan mereka.

Kemudian berkembang lagi paham lainnya yang lebih menekankan penghargaan manusia terhadap factor abiotik yang ada di sekitarnya, paham ini dinamakan ekosentrik disebut juga Deep Environmental Ethics. Komponen abiotik  juga memiliki  nilai intrinsik yang harus dihormati, namun paham ini mengarah kepada animisme dan pantheisme yang dianggap kafir oleh beberapa agama.

Dengan melihat permasalahan lingkungan yang terjadi, saat ini antropsentrisme kembali bangkit seperti yang dikemukakan oleh W.H. Murdy Manusia seperti juga spesies lainnya merupakan bagian dai jaring kehidupan yang saling mempengaruhi  Seperti juga spesies lain manusia juga memiliki tujuan yang sama, yaitu bertahan untuk tetap eksis. tidak salah untuk memperjuangkan tujuan tersebut, karena semua spesies juga melakukan hal yang sama dan F. Frase Darling yang mengemukakan bahwa Manusia adalah aristrokat biologis, memiliki kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya  Sebagai “pemimpin”, manusia memiliki kewajiban untuk melindungi makhluk hidup yang berada di bawah kekuasaannya.

Kesimpulan

Permasalahan banjir yang terjadi Jakarta membutuhkan penyelesaian masalah yang komprehensif yang harus dilakukan oleh semua pihak yang terkait dengan peristiwa banjir ini. Pemecahan masalah harus dilakukan dengan pendekatan teknis dan non teknis. Pendekatan teknis, seperti yang diungkapkan oleh Gubernur DKI, bahwa untuk menanggulangi banjir, akan dibangun drainase baru di 36 titik di DKI Jakarta, yang memakan biaya yang tidak sedikit, namun diharapkan mampu menanggulangi permasalahan banjir yang terjadi saat ini. Namun, perbaikan dan biaya besar yang dikeluarkan, akan percuma saja jika tidak diikuti oleh perubahan sikap warga Jakarta terhadap lingkungannya.

Paham antroposentrisme yang baru sepertinya harus diterapkan oleh para penduduk di DKI Jakarta, dimana diperlukan suatu kesadaran dan tanggung jawab dari manusia sebagai makhluk hidup ‘penguasa’ dibandingkan dengan  makhluk hidup lain dan factor abiotik untuk berkewajiban melindungi alam semestanya. Perlu dilakukan penyuluhan  secara lebih intensif kepada masyarakat yang melibatkan LSM – LSM untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyimpangan – penyimpanagan yang terjadi di masyarakat, terutama masyarakat kelas bawah di bantaran sungai untuk lebih ditertibkan dan diperhatikan nasibnya.

fyi : ini hanya tugas mata kuliah etika profesi akuuu.. hehe..

3 thoughts on “Banjir dan Etika Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s