My 7th month pregnancy

Mendekati hari kelahiran bayi kami, ah entahlah rasanya koq jadi ga karuan gini ya. Ada rasa cemas, takut, waswas, campur campur deh. Padahal kan bumil ga boleh stress apalagi mendekati hari kelahiran. Harusnya menghadapi semuanya dengan perasaan senang, semangat, berani dan perasaan positif lainnya.. Tapi koq saya malah mengalami yang sebaliknya..

image

Hari ini tepat tujuh bulan usia kandungan saya. Dan saya masih tinggal di kebun sama suami. Orangtua sih udah nyuruh saya turun gunung dari lebaran kemaren, teman teman juga gitu, jalan di silosanen kan rusak payah, berbatu, nanjak, pokoknya bikin khawatir deh kalo udah hamil gede masih turun naek k silos..

Makanya akhirnya saya dan suami sepakat, buat ngirim saya pulang untuk melahirkan di rumah orangtua saya di bandung. Seperti yang dilakukan teman teman di kebun, yang sementara berpisah dulu sama suami demi keamanan dan kenyamanan. Setelah semua sepakat koq saya yang jadi ragu – ragu ya, well, ada beberapa hal yang terasa berat untuk dijalani (karena blm dijalani, makanya terasa berat dan bikin galau)

Jarak dari silos ke bandung tentunya bukan jarak yang dekat, bisa dikatakan sangat sulit untuk sampai di bdg di hari yang sama dengan hari keberangkatan dari kebun. It’s mean kemungkinan besar suami ga bakal bisa mendampingi di hari kelahiran anak kami. Ya Alloh, semalem sempet ngobrol sama suami, kita harus sama -sama ikhlas buat ngejalani ini semua.. Melahirkan bayi pertama kami tanpa didampingi suami, hemm, ayo semangattt, katanya yang penting suami ikhlas dan mendukung,mendoakan dari jauh. Kita juga ikhlas meski secara fisik suami ga ada di samping kita, tapi kan dia tetap ada disana untuk kita.. Insya allah semua berjalan lancar.

Yang jadi beban fikiran kedua, setelah melahirkan nanti, ga mungkin kan saya dan baby langsung pulang ke kebun. Ya minimal nunggu baby 2
atau 3 bulan baru bisa ngumpul sama papanya di kebun. Hmm, jadi mikir, kasian juga suami lama lama ditinggal d kebun.

Tapi ya mau gimana lagi, semuanya pilihan. Idealnya ya, melahirkan anak pertama ada suami yg memegang tangan kita dan menyemangati kita. Orangtua juga ada disana buat ngerawat kita dan c baby yg baru lahir (karena kan masih pertama,jadi blm pengalaman megang bayi). Tapi balik lagi ke realita, kondisinya memang seperti ini, jadi ya disyukuri dan dijalani aja..

Semangattt ahh, ga boleh kebanyakan mikir.. Insya Allah, semua yang terbaik sudah ada dalam rencana Allah SWT..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s