a wonderful housewife #1

suatu sore di rumah kebun kami..

akang,suamiku nampak sangat serius dengan laptopnya, dengan form data karyawan yang harus diisinya. nah, salah satu data yang ada di form itu adalah data istri. “mam, gelar s2nya mam itu apa ya” tanyanya. “M.Si” jawabku pelan, lalu akang nulis nama saya ” Rahmi Utami Hadiani, S.P.,M.Si”, lalu kolom isian selanjutnya yang rasanya membuat dunia saya berhenti beberapa saat. kolom “pekerjaan” dengan bangga akang menulis “Ibu rumah tangga” dalam kolom itu.OooMaiiiGod

sesaat saya tertegun, saya merasa kerdil, saya merasa malu, yaaa, malu kepada diri sendiri..

“iih, malu ah pap, ga usah ditulis kali gelarku, masa gelarnya dua tapi pekerjaan IRT” spontan kalimat yang sebenarnya menyakiti diri saya sendiri keluar dari mulut saya. hhmmm, kenapa harus malu yaa, bukannya seharusnya saya merasa bangga, soalnya kan jaraaaaang sekalii, lulusan s2 dari perguruan tinggi yang bagus pula hanya berkarier di rumah saja, fulltime housewife untuk suami dan anak2 saya nanti, dan tentunya tidak mempunyai kegiata rutin di luar rumah.

tapi yaa pemirsaaa, teteup aja yang namanya manusia, ada ajja rasa kurang bersyukurnya. di saat beberapa teman saya yang sedang berkarier bilang, betapa saya beruntung karena suami meminta saya di rumah saja dan ga usah ikut cari uang. koq yaa, keinginan untuk back to work itu masihhhh saja ada di benak sayaa (hmm, mungkin karena saya merasa gelar saya itu “amanah” dan sampai sekarang saya belum bisa menggunakannya dengan maksimal).  apalagi kalo udah dibawa akang ke komunitas teman – temannya di luar kebun, juga teman – teman kuliah saya dulu, hmm, rasanya ada perasaan minder gitu kalo bergaul dengan wanita bekerja..

tapi sejauuh ini siy, setelah fulltime setahun menikah dan di rumah saja. ternyata menjadi housewife itu tidak seburuk dan semengerikan yang saya duga sebelumnya.. (jadi ingat masa masa idealis waktu jadi mahasiswa dulu, kata housewife itu jauuuh sekali dari angan – angan saya..). beberapa hal positif dan membahagiakan di bawah ini belum tentu saya dapatkan “jika” waktu itu saya masih bekerja dan memutuskan untuk tidak ikut kebun. cekidoottt..

Pertama, saya bisa selalu dekat dengan akang, alhamdulillah, fase satu tahun pertama (yang kata orang adalah fase adaptasi dalam pernikahan) saya bisa selalu dekat dan mendampingi suami saya di kebun. jadi ya saya bisa tau dan merasakan ‘betapa ga mudahnya pekerjaan akang di kebun’, ‘betapa besarnya perjuangan akang buat saya, hiksss, jadi kangeen akaang (tulisan ini dibuat di bandung, lagi nunggu lahiran dan jauhhh dari suamiku). kadang kalo malam datang, saya sengaja tidur belakangan, dan melihat wajah kelelahan suami saya setelah bekerja seharian, karena yaaaa, seperti dia bilang, kerja di kebun berarti dia harus menyerahkan 24jam waktunya untuk pekerjaan dan urusan di kebun yang kadang ga tau waktu itu..heheu.. alhamdulillah karena saya fulltime di kebun, jadi saya bisa mengerti detail pekerjaan suami saya, tanggung jawab besar yang harus dipegangnya. jadi, nanti kalopun kami sepakat untuk saya kembali bekerja dan hidup di kota, insya Allah saya sudah sangat memahami apa yang akang kerjakan di kebun..

*pak sinder & bu sinder afd. kampongan, yang selaluww kompak,,hohoho*

kedua, seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, keputusan menjadi housewife ini memang sudah menjadi kesepakatan kami dari sebelum menikah. salah satu pertimbangannya, akang ingin saya lebih mengenal dan memahami karakteristik masyarakat juga model kehidupan di kebun, yang tentunya sangat berbeda dengan kehidupan di perkotaan. setelah setahun saya hidup di kebun dengan semua kerempongan dan stress tingkat tinggi juga di awal, hehe, saya merasa ini keputusan yang tepat. karena jika saja waktu itu ketika kami menikah dan saya kembali bekerja dan tinggal di kota, akan sulit bagi saya untuk beradaptasi, dan mengerti karakteristik masyarakat kebun, juga bagaimana menjalankan peran dan tanggung jawab saya sebagai seorang pendamping sinder.

ketiga, alhamdulillah, setahun menikah dan sekarang kami sedang menantikan putra pertama kami. well, awalnya kami cukup kaget dan saaangggattt bersyukur karena anugrah ini datang begitu cepat kepada kami. jadi, niat awalnya sebelum menikah itu begini, saya ikut di kebun maksimal 6 bulan saja untuk beradaptasi setelah itu saya sepakat untuk kembali mengadu nasib bekerja di kota jember. makanya setelah 4 bulan kami menikah, akang mulai berfikir untuk mencari rumah untuk saya tinggal di kota begitu juga saya yang sudah mulai menghubungi beberapa rekan juga mencari informasi lowongan pekerjaan di jember. namun, ternyata rencana Alloh SWT untuk kami jauh lebih indaah, SAYA HAMIL. kami berduaaa sangattt bahagia dengan kabar ini begitu juga dengan keluarga kami. akang pun kembali mengurungkan niat untuk saya kembali bekerja, karena riskan bagi saya untuk naek turun ke silos dalam kondisi hamil. jadi niat back to work di pending lagi sampe lahiran dan baby siap ditinggal (heuuu,,emang saya siap ninggalin anak  yang lagi lucu – lucunya untuk bekerja di luar rumah #asktomyself).  keputusan punya anak langsung setelah menikah ternyata diamini oleh salah satu sepupu saya, dia menikah 4 bulan yang lalu dan ikut pindah ke kota tempat suaminya kerja, dan ternyata dia begitu sulit sekali mendapat pekerjaan baru, karena katanya perusahaan sangat mempertimbangkan kondisi kalo misalnya dia hamil lalu cuti melahirkan di saat dia baru bekerja di perusahaan itu. ihirrrr… berasa ada yang ngebelain jadinya, mudah – mudahan setelah baby lahirr, pintu – pintu rizki untuk keluarga kecil kami semakin terbuka lebarrr..amin..🙂

sebenarnyaa masih banyak cerita saya selama menjadi housewife, nanti lah kapan – kapan saya share juga disini, yaaa itung – itung reminder buat saya juga siiyyy,, karena..

“Sama seperti ‘pekerjaan’, Jodoh & Keturunan juga adalah rizki yang sangat berharga dari Sang Maha Rahiim, jadi mungkin saat ini Jodoh & keturunan yang lebih dulu di anugrahkan kepada saya, dan semuanya itu wajib saya syukuri..” *wonderfulhousewife – hadianirahmi*

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s